Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Bagaimana Hak Istri Atas Suami dalam Islam? Ada beberapa hal yang perlu diketahui seorang istri mengenai haknya atas suaminya. Di sisi lain, sebagian suami juga perlu mengetahui apa saja hak yang dimiliki seorang wanita.

Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Mungkin beberapa pendapat secara umum, jika suami berhak atas istri, maka hak istri atas gaji suami merupakan pandangan umum yang kita akui.

Namun tidak hanya itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan suami untuk hak-hak istri. Padahal ada hak istri atas seorang suami yang harus dipenuhi.

Ada banyak informasi tentang ini. Hadist yang kaitannya dengan hak-hak istri atas suaminya. Di sisi lain, di awal kami juga menjelaskan hadits tentang Hak Suami atas Istri dalam Islam.

Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Diriwayatkan oleh Hakim bin M’awiyah, dari ayahnya, ia bertanya kepada Rasulullah: “Apa hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah berkata:

Engkau harus mencukupi makannya jika engkau makan, mencukupi kebutuhan pakaiannya, dan jangan memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan engkau mendiamkannya kecuali di rumah.

Hal tersebut seperti yang telah diriwayatkan dalam hadits riwayat Ahmad (IV/446-447), (V.3,5), Abu Dawud (2142-2144), dan Al-Hakim (II/188).

1. Harus Dipergauli Dengan Baik

Allah berfirman, “dan bergaullah dengan mereka secara patut!” (An-Nisa’: 19).

Dalam hadits tentang haji wada ‘Rasulullah bersabda,

Berwisatalah yang baik kepada istri istri, sebab mereka ibarat tawanan bagi kalian. Ingatlah, sesungguhnya kalian mempunyai hak atas istri istri kalian, dan sebaliknya mereka juga memiliki hak atas kalian.

Hak mereka adalah harus kalian cukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka dengan baik. Sedang hak kalian atas mereka,

jangan sampai mereka menempatkan orang lain di tempat tidur mereka atau memasukkan orang lain yang kalian benci ke rumah.

Dalam hadits lain, beliau bersabda,

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga. Dia akan menempatkan padanya rasa kasih sayang.” Hadits riwayat imam Ahmad (VI/71, 104, 105) dari Aisyah.

Selanjutnya, dalam hadits lainnya,

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam mempergauli istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam mempergauli istri.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi (3895), Ad-Darimi (2260), dan Ibnu Hibban (4160) dengan sanda shahih.

Dalam hadits Abu Hurairah, Rasul bersabda;

Pergaulilah istri istri kalian dengan baik, sebab mereka (istri istri) tercipta dari tulang rusuk! Bagian tulang rusuk yang paling bengkok ialah bagian yang atas.

Jika kalian berupaya meluruskannya, boleh jadi malah mematahkannya. Namun, jika kalian membiarkannya, ia tetap bengkok. Maka pergaulilah istri istri kalian dengan baik.”

Bagian terakhir dari hadits di atas menganjurkan suami untuk bersikap lemah lembut kepada istrinya agar tercipta suasana hati yang tenang dan jiwa yang tenang.

2. Sikap Adil Terhadap Istri Istri (Jika lebih dari satu)

Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Di antara hak istri atas suaminya, adalah diperlukan secara adil. Rasulullah pernah bersabda:

Barangsiapa memiliki dua istri, kemudian tidak dapat bersikap adil kepada keduanya, maka di akhirat kelak salah satyu sisi dirinya jatuh.

Adalah Nabi, pria yang mampu membagi secara adil terhadap istri istri beliau, baik dalam hal pakaian, tempat tinggal dan nafkah makanan, juga dalam pemenuhan bercinta. Beliau bersabda,

Ya Allah inilah kemampuanku dalam membagi (secara adil). Janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau memiliki sedang aku tidak memilikinnya.”

Selain itu, suami juga harus berlaku adil terhadap anak-anak masing-masing istri. Jangan biarkan dia melebih-lebihkan salah satu dari mereka sementara mengabaikan yang lain.

Jika dia hanya peduli pada salah satu dari mereka, mengabaikan hak-hak yang lain, dia telah bersalah atas tirani (kezhaliman).

3. Bergurau dan ciptakan suasana romantis

Kemampuan pria dalam menciptakan suasana ceria, romantis dan bergurau yang menyegarkan di depan istrinya dapat menyegarkan suasana hati wanita.

Bahkan, itu menyebabkan kehidupan yang harmonis di antara keduanya. Diriwayatkan dalam hadits bahwa Nabi pernah berlari mendahului ‘Aisyah, bahkan berkali-kali mendahuluinya.

Dan di lain waktu ‘Aisyah, yang mendahului Nabi.

Tidak ada salahnya mengadakan acara kumpul-kumpul bagi seluruh anggota keluarga setiap minggunya, di mana istri dan anak-anak dilibatkan dalam acara-acara seperti permainan dan perlombaan. Baik itu fisik, agama atau ilmiah.

Perlombaan dan permainan ini dapat menciptakan hubungan yang erat antara hati dan bahkan menciptakan suasana baru kesegaran, kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga.

Akan tetapi, dalam menegakkan hak-hak istri terhadap suaminya, suami tidak boleh berlebihan dalam bercanda, Sehingga menodai kebaikan akhlak dan merusak kepribadiannya.

Oleh karena itu, ia tidak bisa menutup mata jika sikap dan perilaku istrinya melanggar nilai-nilai agama dan syariat Islam.

4. Memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya

Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Hadits shahih berbunyi, dalam artinya: “Engkau harus memberi istri makanan, layaknya kamuy makan, dan pakaian layaknya kamu juga berpakaian.”

Nah memberi nafkah adalah kewajiban suami, meskipun si istri kaya. Ia wajib mencukupi kebutuhan makan dan sandangnya dengan tidak berlebihan atau terlalu kikir.

Hal ini tentu disesuaikan dengan kadar kemampuannya. Dalam hal ini, Allah berfirman:

Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menuru kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezeki hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah telah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath-Thalaw: 7).

Bahkan, dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Nabi menegur keras orang yang menyia-nyiakan kewajiban memberi nafkah kepada orang orang yang menjadi tanggungannya. Beliau bersabda:

Cukuplah seseorang disebut ‘berdosa’ jika ia menelantarkan orang orang yang menjadi tanggungannya.”

Islam menganggap kekayaan yang dinafkahkan suami untuk keluarganya sebagai “sedekah” yang berharga di mata Allah.

Bahkan usaha suami mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bentuk “jihad fii sabilillah”.

5. Pemenuhan kebutuhan biologis istri demi menjaga kehormatannya

Di antara kewajiban suami adalah memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Ia tidak boleh menelantarkannya tanpa sebab yang memang membolehkannya.

Sebab, hal itu, berarti menzhaliminya, meski alasan suami untuk berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah. Hal demikian menurut syari’at tetap tidak boleh.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa istri Utsman bin Ma’zhun dulunya memakai khidhab (perwarna kuku alam dari pohon pacar) dan wangi-wangian, kemudian meninggalkannya.

Suatu saat datang kepada ‘Aisyah dengan tanpa khidhab maupuyn parfum. Melihat itu, ‘Aisyah merasa heran, lalu bertanya sebabnya,

Apa sebab kamu berbuat demikian?” “Hai Ummul Mukminin, sungguh, Utsman tidak lagi berhasyrat pada dunia dan wanita,” jawabnya.

Mendadak Rasulullah muncul, maka ‘Aisyah pun memberitahukan hal itu kepada beliau. Rasul kemudian memanggil Utsman supaya menghadap.

Rasul berkata kepadanya, “Hai Utsman, apakah engkau beriman kepada apa yang kami imani?” “YA” Jawab Utsman. Maka Rasul bersabda, “Teladanmu adalah kami

6. Tidak boleh memukul istri hingga menyakitinya (berlebihan)

Selanjutnya hak seorang istri atas suaminya adalah tidak boleh sampai memuku istrinya. Bahkan menyakitinya berlebihan. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zum’ah, Rasulullah bersabda:

Janganlah seorang suami mencambuk istri sebagaimana mencambuk hamba sahaya, kemudian ia menjima’nya sesudah itu di malam harinya.”

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini mengisyaratkan tidak pantasnya perbuatan suami yang memukuli istri dengan keras kemudian sesudah itu atau di malam harinya menggaulinya.”

Hubungan yang baik dan ideal antara seorang pria dan seorang wanita harus didahului oleh kesenangan, keinginan, dan kebutuhan bersama.

Sementara itu, orang yang dipukul merasakan kebencian terhadap orang yang memukulnya. Jadi hadits di atas menunjukkan betapa tercelanya hal ini.

Jika demikian dan harus terjadi, Pukulan harus seadanya dan bersifat mendidik, tidak emosional, sehingga istri tidak membenci mereka.

7. Pertengahan dalam hal cemburu (Ghirah)

Hak Istri Atas Suami dalam Islam

Dalam tata krama seorang suami dalam berurusan dengan istrinya, ia harus pertengahan dalam kecemburuan, tidak berlebihan atau tidak kurang.

Hendaknya ia berusaha menghalangi pintu-pintu terjadinya larangan (saddu adzara’i) agar tidak terjadi, selain tidak mengabaikan hal-hal yang bisa berakibat fatal.

Ia juga harus selalu mengawasi secara proporsional terhadap istrinya sesuai dengan batasan-batasan yang telah Allah tetapkan dalam hal ini. Sikap-sikap semacam itu dan sejenisnya merupakan salah satu bentuk “ghirah” yang terpuji.

Adapun kecemburuan dan prasangka yang berlebihan dan tidak berdasar, bahkan memata-matai, hal-hal tersebut dan sejenisnya dilarang dan bahkan haram.

8. Hak Hak Lain Istri Atas Suaminya

Hak istri atas suami, lainnya adalah sebagai berikut:

  1. Mendidik dan mengajari istri. Suami harus mengajari istrinya ilmu agama yang dibutuhkannya, khususnya tentang kewajiban utama.
  2. Memerintahkannya melakukan hal hal yang ma’ruf dan mencegahnya dari yang mungkar dengan santun. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjaknnya.” (Thaha: 132). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Hai orang orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim: 6).
  3. Menjaganya dari berbagai hal yang menyakitkan, menjaga perasaanya, tidak membuka rahasianya, serta tidak membincangkan aibnya kepada orang lain.
  4. Memberikan izin padanya untuk mengunjungi sanak dan keluarganya, sahabat-sahabatnya sesama mukminat, kerabat kerabatnya serta tetangga tetangganya.
  5. Menjaga dan mencegahnya dari bergaul dengan perempuan perempuan fasiq atau yang kepribadiannya tidak jelas.
  6. Suami jangan sampai begitu berharap terhadap gaji istrinya jika ia seorang pegawai, misalnya, atau kekayaan yang dimiliki, atau harta warisannya dan sebagainya. Atau hal itu dimanfaatkan untuk memperalat istrinya atau mempersempit dan menekan kehidupannya.
  7. Mendampinginya baik saat suka maupun duka.
  8. Ia harus senantiasa memberinya nasihat.
  9. Suami jangan sampai menyebut-nyebut keburukan keluarga istri.
  10. Hak istri atas suaminya adalah, suami juga seharusnya berhias diri sebagaimana si istri bersolek untuknya.
  11. Memberikan porsi perhatian terhadap pendidikan anak-anak secara umum, dan secara khusus untuk anak anak perempuan.
  12. Dalam memenuhi hak istri atas suaminya, sang suami harus berinteraksi dengan istri secara baik.
  13. Mencintai dan menyayangi sepenuh hati
  14. Memanggilnya dengan sebutan yang paling disukainya
  15. Menghormati segala bentuk penghormatan yang menjadikannya senang.

Baca juga: Manfaat Nikah Muda Bagi Perempuan

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang perlu diketahui seorang istri mengenai haknya atas suaminya. Di sisi lain, sebagian suami juga perlu mengetahui apa saja hak yang dimiliki seorang wanita.

Mungkin beberapa pendapat secara umum, jika suami berhak atas istri, maka hak istri atas gaji suami merupakan pandangan umum yang kita akui.

Namun tidak hanya itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan suami untuk hak-hak istri. Padahal ada hak istri atas seorang suami yang harus dipenuhi.

Demikian informasi yang dapat disampaikan tentang Hak Istri Atas Suami dalam Islam. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

error: Content is protected !!