Gue freelancer. Udah tiga tahun kerja dari kamar kos di Jakarta, dan jujur aja, rutinitasnya mulai bikin otak keriting. Bangun, buka laptop, kirim invoice, tidur. Ulang lagi besoknya. Jadi waktu ada klien yang kasih proyek panjang dan bilang "santai aja, yang penting deadline aman," gue langsung kepikiran: gimana kalau sebulan ini gue kerja dari Jogja?
Bukan liburan. Bukan juga workation estetik yang difoto buat feed Instagram. Gue pengen tahu aja, apa yang berubah dari cara gue kerja dan hidup kalau pindah base camp sebentar. Dan ternyata, sebulan di Jogja ngasih pelajaran yang nggak gue duga.
Minggu Pertama: Kaget Sama Ritme yang Lebih Lambat
Hari kedua di Jogja, gue udah ngerasa ada yang aneh. Bukan aneh buruk, tapi kayak... semua orang nggak buru-buru. Tukang kopi di depan kos nggak ngasih tatapan "cepat dikit dong" kayak barista di Jakarta. Driver ojol masih sempet ngobrol soal tim sepak bola sebelum jalan. Bahkan wifi di kafe yang gue singgahi nggak drop walaupun jam sebelas siang.
Gue pikir ini cuma fase honeymoon. Tapi ternyata efeknya ke kerjaan gue nyata. Di minggu pertama, gue nyelesain dua draft artikel yang biasanya makan waktu lima hari. Bukan karena gue jadi lebih rajin, tapi karena distraksi urban yang biasanya nyerap energi gue — macet, bising, tekanan sosial buat "kelihatan sibuk" — semuanya ilang.
Kerja remote itu bukan soal di mana kamu duduk. Tapi soal apa yang nggak ganggu kamu waktu lagi fokus.
Minggu Kedua dan Ketiga: Ketemu Pola Baru yang Nggak Disengaja
Ini bagian yang paling menarik. Tanpa gue rencanain, jam kerja gue berubah drastis. Di Jakarta, gue biasanya mulai jam 9 pagi, tapi baru "beneran kerja" jam 11 karena masih buka email, scroll Twitter, nunggu mood. Di Jogja, gue mulai jam 6 pagi — bukan karena disiplin, tapi karena subuh di sini sepi banget dan udara dinginnya bikin otak encer.
Jam 6 sampai 9, gue nulis. Jam 9, gue jalan kaki ke pasar atau warung buat sarapan. Jam 10 lanjut kerja lagi sampai jam 2 siang. Sisanya? Gue nggak kerja. Beneran nggak kerja. Gue naik motor ke arah utara, nyasar ke sawah, duduk di angkringan, baca buku.
Yang Berubah dari Cara Gue Ngatur Klien
Karena jam kerja gue jadi lebih pendek tapi lebih fokus, gue jadi berani bilang "nggak" ke klien yang minta revisi mendadak jam 9 malam. Biasanya gue turutin aja, takut kehilangan proyek. Sekarang gue sadar, kerja remote itu bukan berarti siap 24 jam. Dan anehnya, klien-klien gue justru lebih respect.
Mungkin karena hasil kerja gue lebih rapi. Atau mungkin karena gue nggak lagi bales chat sambil setengah tidur. Entahlah. Yang jelas, batas antara "kerja" dan "hidup" jadi lebih jelas, walaupun secara fisik gue kerja dari kafe, dari teras kos, bahkan dari pendopo yang ada kucingnya.
Minggu Keempat: Uang, Teman, dan Hal-Hal yang Nggak Gue Hitung
Soal biaya hidup, ini yang bikin gue agak nyesel nggak nyobain dari dulu. Sewa kos bulanan di Jogja dengan kamar yang lebih gede dari kos gue di Jakarta? Seperempatnya. Makan tiga kali sehari di warung yang enak? Masih lebih murah dari sekali makan di mall Jakarta. Gue jadi bisa nabung lebih banyak tanpa harus ngurangin kualitas hidup.
Tapi yang paling nggak gue antisipasi adalah soal teman. Sebagai freelancer, gue terbiasa kerja sendirian. Di Jakarta, teman-teman gue pada kerja kantoran, jadi ketemu cuma weekend dan sering batal. Di Jogja, gue ketemu banyak freelancer lain — ada yang desainer, ada yang penulis, ada yang editor video. Kami nggak sengaja ketemu di kafe yang sama, terus jadi rutin ngopi bareng tiap Jumat.
- Ngobrol soal tarif jadi lebih terbuka, karena nggak ada kompetisi kantor.
- Sharing klien jadi hal biasa, bukan hal yang tabu.
- Kerja bareng di kafe yang sama bikin rasa "sendirian" hilang, walaupun tetap kerja masing-masing.
Gue nggak bilang Jogja itu surga freelancer. Ada juga minusnya. Internet di beberapa daerah pinggiran masih lemot. Kadang gue kangen teman lama. Dan musim hujan bikin jemuran nggak kering. Tapi kalau ditanya apakah sebulan ini ngubah cara gue kerja, jawabannya jelas iya.
Yang Gue Bawa Pulang (Secara Mental)
Gue balik ke Jakarta minggu lalu. Tapi gue nggak balik ke kebiasaan lama. Jam 6 pagi sekarang gue udah bangun, walau nggak ada suara azan dari masjid sebelah kos Jogja. Gue masih jalan kaki ke warung buat sarapan, walau sekarang warungnya di pinggir jalan raya yang bising. Dan gue masih bilang "nggak" ke klien yang minta revisi tengah malam.
Perubahan yang paling terasa bukan soal tempatnya. Bukan soal Jogja versus Jakarta. Tapi soal gue sadar, sebagai freelancer, gue punya kontrol lebih besar dari yang gue kira. Selama ini gue kerja kayak orang kantoran — jam sembilan sampai lima, duduk di kursi yang sama — padahal nggak ada yang maksa.
Sebulan di Jogja ngajarin gue bahwa kerja remote itu bukan cuma soal lokasi. Ini soal ngasih ruang buat diri sendiri bernapas, mikir, dan sadar bahwa hidup nggak harus selalu cepat. Kalau kamu freelancer dan lagi ngerasa stuck, coba deh pindah base camp sebulan. Nggak harus Jogja. Bisa Ubud, bisa Bandung, bisa kota kecil di Sumatera yang belum banyak orang tahu.
Siapa tahu, seperti gue, kamu balik bawa versi diri yang lebih waras.