Gue pernah nolak trip ke Labuan Bajo gara-gara satu kalimat yang sering banget kita dengar: "Freelancer mah nggak bisa liburan, nanti klien kabur." Dua tahun kemudian, temen gue yang ngomong gitu justru burnout dan kehilangan dua klien tetap. Sementara gue, yang nekat berangkat, malah dapat proyek baru dari kenalan di kapal phinisi. Sejak itu gue sadar, banyak "kebenaran" soal traveling yang kita telan mentah-mentah ternyata cuma mitos warisan generasi sebelumnya.
Nah, buat kamu yang kerja lepas dan sering galau antara nyicil kerjaan atau nyicil tiket, ini empat mitos populer yang menurut gue udah waktunya dipensiunkan.
Baca juga: 5 Sinyal Liburanmu Jadi Beban Usaha Kecil, Cek Dulu!
Mitos 1: "Jalan-Jalan Bikin Kerjaan Keteteran"
Ini mitos paling lengket di kepala freelancer. Logikanya kedengarannya masuk akal: waktu di jalan nggak produktif, deadline meleset, klien marah. Tapi kenyataan di lapangan sering kebalikannya.
Gue justru ngerasa kualitas kerja naik setiap habis pergi. Ada sesuatu soal ganti pemandangan yang bikin otak nggak stuck di satu pola. Waktu nulis artikel di kafe kecil pinggir Danau Toba, ide yang biasanya mentok di jam dua siang malah ngalir terus sampai magrib. Mungkin karena nggak ada TV nyala, nggak ada grup chat kantor yang berisik, dan sinyal yang lemot memaksa gue fokus.
Yang penting bukan apakah kamu jalan, tapi bagaimana kamu ngatur ritmenya. Bawa laptop, tentuin jam kerja yang jelas, dan komunikasiin ke klien soal respons yang mungkin agak lambat. Selama transparan, jarang ada klien yang kabur cuma gara-gara kamu jawab chat tiga jam lebih lama.
Mitos 2: "Liburan Harus Jauh dan Mahal Biar Berasa"
Entah sejak kapan traveling diukur dari jarak tempuh dan jumlah nol di struk. Padahal gue kenal beberapa freelancer yang lebih rileks setelah tiga hari di Pantai Timang, Gunungkidul, dibanding temen gue yang habis puluhan juta buat trip Eropa tapi balik dengan jetlag dan tagihan kartu kredit.
Indonesia itu kejam kalau soal pilihan destinasi murah tapi nggak murahan. Coba deh:
- Banyuwangi — bisa naik Kawah Ijen dini hari, lanjut snorkeling di Bangsring, dan sorenya nyantai di pantai. Biaya tiga hari bisa di bawah satu juta kalau mau nginap di homestay warga.
- Bukit Lawang, Sumatera Utara — trekking lihat orangutan di pagi hari, sorenya nongkrong di tepi sungai sambil ngerjain draft. Wifi di guesthouse lumayan, kok.
- Pulau Weh, Aceh — buat yang pengin nyilem murah tanpa harus ke Raja Ampat. Airnya jernih, dan biaya hidupnya ramah banget buat dompet freelancer.
Intinya, "berasa" itu soal intensitas pengalaman, bukan jarak. Kadang duduk diam satu jam di bawah pohon kelapa sambil dengerin ombak udah cukup buat ngisi ulang energi yang terkuras sebulan.
Mitos 3: "Freelancer Nggak Punya Cuti Resmi, Jadi Nggak Boleh Libur"
Ini yang paling gue sesalkan pernah gue percaya. Karena nggak ada HRD yang ngasih jatah cuti, kita sering merasa nggak berhak libur sama sekali. Ujungnya kerja terus sampai badan protes.
Padahal justru karena nggak ada yang ngatur cuti kita, kita yang harus lebih tegas ngatur diri sendiri.
Gue mulai nerapin hal sederhana: setiap tiga bulan, gue blokir empat hari di kalender dan perlakukan itu seperti meeting wajib dengan klien besar. Nggak bisa digeser, nggak bisa dibatalkan. Awalnya canggung, tapi setelah dua-tiga kali jalan, klien tetap aja balik karena hasil kerja gue nggak berubah.
Kalau kamu masih ragu, coba mulai dari yang kecil. Libur dua hari di kota sebelah, matiin notifikasi email setelah jam enam, dan lihat apa yang terjadi. Kemungkinan besar: nggak ada kiamat.
Mitos 4: "Traveling Sendirian Itu Ngenes"
Mitos ini mungkin yang paling nggak berdasar. Sebagian besar freelancer justru traveling sendirian karena jadwalnya nggak bisa disamain dengan teman kantoran. Dan ternyata, solo traveling itu bukan soal kesepian, tapi soal kebebasan ngatur ritme sendiri.
Gue pernah tiga hari di Yogyakarta sendirian, dan itu jadi salah satu trip paling produktif. Pagi nulis di angkringan, siang keliling kotabaru naik sepeda, malam nonton film di bioskop kecil. Nggak ada negosiasi "mau makan di mana", nggak ada drama "kok lama banget di toilet". Semua keputusan ada di tangan sendiri.
Bonusnya, orang lokal biasanya lebih gampang ngobrol sama yang jalan sendirian. Gue kenal seorang pembatik di Kotagede yang akhirnya jadi klien tetap gue sampai sekarang. Nggak akan terjadi kalau gue jalan bareng rombongan yang sibuk foto-foto.
Jadi, Harus Mulai dari Mana?
Kalau kamu freelancer yang masih ragu, coba mulai dari yang paling deket dan paling murah. Pilih satu kota dalam radius tiga jam dari rumah, pesan penginapan dua malam, bawa kerjaan yang paling ringan, dan berangkat minggu depan. Nggak usah nunggu proyek besar selesai, nggak usah nunggu tabungan tembus dua digit.
Pengalaman gue, makin lama nunda traveling karena percaya mitos-mitos di atas, makin susah juga buat mulai. Padahal yang dibutuhin cuma satu keberanian kecil di awal. Sisanya, jalan sendiri yang bakal ngajarin.
Jadi, mitos mana yang selama ini paling nahan kamu di rumah? Kalau udah tahu jawabannya, mungkin udah waktunya kamu cari tiket.