Gue masih ingat betul momen pertama kali ngeliat foto bukit-bukit Savana di Sumba waktu masih jadi mahasiswa tingkat akhir. Waktu itu gue cuma bisa bengong, sambil mikir, "Kapan ya gue bisa ke sana?" Dompet gue waktu itu isinya cuma cukup buat bayar kos dan makan mie instan seminggu. Tapi ternyata, Tuhan punya rencana lain. Setahun setelah lulus, gue dapet kerja pertama dengan gaji UMR, dan hal pertama yang gue lakuin bukan beli HP baru, tapi nabung buat tiket ke Sumba.
Liburan pertama setelah hidup mandiri itu rasanya campur aduk. Ada excited-nya, tapi juga panik karena baru sadar semua biaya ditanggung sendiri. Nggak ada lagi mama yang transfer buat uang jajan tambahan. Jadi gue harus pintar-pintar ngatur duit. Dan dari pengalaman itulah gue belajar banyak hal soal traveling dengan budget terbatas, khususnya buat kamu yang baru mulai hidup mandiri dan pengin jalan-jalan tanpa bikin tabungan kering.
Kenapa Sumba Jadi Pilihan Pertama?
Sebenernya alasannya sederhana: gue pengin ke tempat yang belum terlalu ramai tapi pemandangannya nggak main-main. Bali udah kayak rumah kedua buat banyak orang, Lombok juga udah rame. Sumba? Masih relatif sepi, tapi punya pantai yang nggak kalah cantik sama Raja Ampat. Ditambah lagi, biaya hidup di sana masih tergolong murah dibanding destinasi populer lainnya.
Baca juga: Liburan ke Indonesia? Ini yang Sering Dilupakan Keluarga Muda
Gue terbang dari Jakarta ke Tambolaka dengan sekali transit di Bali. Tiketnya gue beli jauh-jauh hari, sekitar tiga bulan sebelumnya, dan dapet harga yang lumayan masuk akal. Tips pertama dari gue: jangan beli tiket mendadak kalau kamu masih hidup dari gaji pertama. Selisih harganya bisa buat makan seminggu di Sumba.
Begitu mendarat di Tambolaka, udara panas langsung nyambut. Bandaranya kecil, sederhana, tapi bersih. Gue sewa motor dari salah satu warga yang kenal sama temen gue. Harganya sekitar 75 ribu per hari, dan itu udah termasuk helm. Ini salah satu keuntungan traveling di Sumba: transportasi lokal masih sangat terjangkau.
Rute 5 Hari yang Nggak Bikin Capek
Gue nggak mau liburan yang malah bikin badan remuk. Jadi gue susun rute yang santai tapi tetap dapet spot-spot penting. Ini dia pembagian harinya:
- Hari 1: Tiba di Tambolaka, istirahat, jalan-jalan sore ke Pantai Pero. Sunset di sini juara, dan nggak ada tiket masuk.
- Hari 2: Menuju Waikabubak, mampir ke Kampung Adat Ratenggaro. Rumah-rumah beratap tinggi itu bikin merinding kagum.
- Hari 3: Eksplor Pantai Mandorak dan Weekuri. Weekuri itu laguna air asin yang tenang banget, cocok buat yang nggak jago renang.
- Hari 4: Bukit Wairinding. Ini yang bikin gue jatuh cinta sama Sumba. Savananya luas, warnanya berubah tergantung musim.
- Hari 5: Belanja oleh-oleh kain tenun, lalu balik ke Tambolaka buat pulang.
Rute ini gue susun biar nggak bolak-balik jauh. Sumba itu pulau besar, jadi kalau kamu asal pindah spot tanpa perhitungan, bensin dan waktu bakal habis di jalan. Percaya deh, gue sempat salah hitung di hari kedua dan harus ngebut di jalan yang gelap. Nggak seru.
Soal Penginapan dan Makan
Gue nginep di homestay milik warga lokal. Harganya 150 ribu per malam, udah termasuk sarapan. Kamarnya sederhana, kipas angin, kasur lumayan empuk. Tapi yang bikin betah adalah keramahan pemiliknya. Setiap pagi gue disuguhi kopi Sumba yang rasanya kuat banget, plus pisang goreng hangat.
Kalau soal makan, jangan harap ada resto mewah di tiap sudut. Tapi justru itu serunya. Gue makan di warung-warung kecil, mostly nasi ikan bakar atau jagung bose. Sekali makan cuma 20-25 ribu. Dalam lima hari, gue cuma habis sekitar 300 ribu buat makan. Lumayan banget kan?
Yang penting itu bukan seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa siap kamu mengatur diri sendiri. Liburan pertama tanpa bantuan orang tua itu semacam ujian hidup mandiri versi menyenangkan.
Pelajaran yang Gue Dapet dari Liburan Pertama
Ada beberapa hal yang gue sesali dan beberapa yang gue syukuri. Yang gue sesali: gue nggak bawa jaket cukup tebal. Malam di Sumba dinginnya nggak main-main, apalagi kalau nginep di dataran tinggi. Gue sempat kedinginan sampai beli selimut di minimarket. Jadi, selalu cek suhu dan cuaca sebelum berangkat, jangan cuma lihat foto-foto Instagram yang warnanya cerah.
Yang gue syukuri: gue bawa botol minum sendiri dan nggak beli air kemasan terus-terusan. Di Sumba, air keran nggak bisa diminum langsung, tapi homestay biasanya nyediain air matang gratis. Ini hemat kecil yang kalau dikali lima hari lumayan juga. Selain itu, gue juga bawa obat-obatan pribadi lengkap, karena akses ke apotek di beberapa daerah lumayan jauh.
Gue juga belajar buat nggak terlalu ngotot foto-foto di semua spot. Awalnya gue pengin mampir ke semua pantai yang ada di daftar. Tapi lama-lama capek dan malah nggak nikmatin momennya. Akhirnya gue sadar, traveling itu soal merasakan, bukan cuma soal posting. Gue duduk lebih lama di satu tempat, ngobrol sama warga, dan itu justru yang bikin perjalanan ini berkesan.
Tips Praktis buat Kamu yang Baru Mulai
Kalau kamu anak kos atau baru kerja dan pengin liburan pertama tanpa drama dompet kering, ini beberapa hal yang bisa kamu tiru:
- Nabung dari jauh hari. Sisihkan 10-15 persen gaji tiap bulan khusus buat traveling. Jangan tunggu sisa, karena sisa biasanya nol.
- Pilih destinasi yang biaya hidupnya murah. Sumba, Flores, atau Nusa Tenggara lainnya masih ramah di kantong.
- Sewa motor, bukan mobil. Lebih murah, lebih fleksibel, dan kamu bisa berhenti di mana aja kalau lihat pemandangan bagus.
- Bawa bekal camilan. Perjalanan antar-spot di Sumba bisa makan waktu 2-3 jam. Camilan penyelamat lapar di tengah jalan.
- Jangan malu nanya warga lokal. Mereka biasanya tahu spot gratis yang nggak ada di Google Maps.
Liburan pertama itu memang bikin deg-degan. Tapi justru dari situ kamu belajar soal prioritas, soal mengatur uang, dan soal menikmati hal-hal sederhana. Sumba ngajarin gue bahwa keindahan nggak selalu mahal. Kadang cuma butuh niat, tabungan kecil, dan keberanian buat berangkat.
Jadi, kalau kamu masih ragu buat liburan pertama, ingat cerita gue ini. Nggak perlu nunggu kaya dulu. Cukup siapin rencana, hitung biaya dengan jujur, dan berangkat. Siapa tahu perjalanan pertamamu juga jadi cerita yang bakal kamu kenang bertahun-tahun kemudian, sama seperti gue mengenang lima hari di Sumba itu.